Nah, setelah semalaman tidur nyenyak, mari kita lanjut mengurai benang ruwet kemarin.
Kemarin kita sepakat kalau perasaan takut, malas, atau pesimis itu nggak datang sendiri, jadi jangan harap mereka bakal log out sendiri dari pikiran kita. Mereka butuh "diusir" secara elegan.
Pertanyaannya: Gimana caranya?
Perasaan kita itu sebenarnya dikendalikan oleh dua tombol utama yang saling bekerja sama. Kalau kita tahu cara menekan tombol ini, kita bisa mengubah rasa malas menjadi semangat dalam hitungan detik. Serious ????
Mari kita bedah dua tombol "Remot Kontrol" diri kita ini:
Tombol 1: State of Mind (Ubah Gambar di Bioskop Pikiranmu)
Ingat pembahasan komunikasi internal kemarin? Apa yang kita bayangkan di kepala akan langsung direspons oleh tubuh.
Pikiran kita itu mirip bioskop pribadi. Sayangnya, saat mau memulai bisnis atau mengambil keputusan besar, film yang kita putar di bioskop pikiran sering kali bergenre horor—judulnya "Tragedi Kebangkrutan Masal" atau "Kisah Tragis Ditolak Calon Klien". Ya jelas saja tubuh kita langsung lemas dan ketakutan!
Cara meretasnya adalah dengan mengubah kualitas gambar tersebut.
Kalau kamu membayangkan kegagalan dengan gambar yang besar, dekat, berwarna tajam, dan bersuara menggelegar, ubah itu sekarang!
Kecilkan gambarnya di pikiranmu, buat menjadi hitam putih, geser menjauh, lalu ubah suara ketakutan tadi menjadi suara kartun yang lucu (seperti suara Donald Bebek).
Begitu kualitas gambarnya rusak, efek emosionalnya ke tubuhmu juga akan runtuh. Ganti filmnya dengan visualisasi kesuksesan yang terang, dekat, dan nyata. Pikiranmu adalah propertimu, kamu sutradaranya!
Tombol 2: Physiology (Gerakan Tubuhmu, Maka Pikiranmu Mengikutinya)
Ini tombol yang paling instan tapi sering disepelekan. Hubungan antara pikiran (mind) dan tubuh (body) itu berjalan dua arah.
Coba perhatikan orang yang sedang malas atau depresi: bahunya merunduk, tatapannya ke bawah, napasnya dangkal, dan bicaranya lambat. Itu adalah komunikasi eksternal yang mengirim sinyal ke otak: "Hei otak, saya sedang tidak berdaya, silakan rilis hormon stres!"
Kalau kamu sedang malas atau takut, jangan dilawan dengan merenung. Pikiran ruwet tidak bisa diselesaikan dengan cara melamun sambil rebahan. Lawan dengan fisiologi tubuh:
Berdirilah dengan tegak (posisi Super Hero).
Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, embuskan kuat-kuat.
Tatap mata ke atas, tersenyumlah (meski agak dipaksakan di awal).
Gerakkan tubuh secara dinamis, berjalan cepat atau melompat kecil.
Secara biologis, saat posisi tubuhmu berubah drastis menjadi posisi "pemberani", otak akan bingung jika harus tetap memproduksi rasa takut atau malas. Otak akan dipaksa merilis hormon endorfin dan dopamin yang memicu semangat. Motion creates emotion! Gerakan menciptakan emosi.
Jadi, Bahagia Dulu atau Kaya Dulu?
Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal yang membuat kita "ruwet" di Part 1. Setelah memahami cara mengelola komunikasi internal dan eksternal, jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi sangat jernih.
Jawabannya adalah: BAHAGIA DULU!
Mengapa? Karena bahagia—atau dalam bahasa teknisnya: kondisi mental yang stabil, tenang, optimis, dan penuh keberanian (resourceful state)—adalah modal utama untuk mengomunikasikan diri kita kepada dunia luar secara efektif.
Ketika kita mampu berkomunikasi secara internal dengan baik (mengelola rasa takut menjadi berani, merubah malas menjadi aksi), maka komunikasi eksternal kita ke pasien, pasar, klien, atau ke calon mitra bisnis akan menjadi sangat meyakinkan. Orang kaya menjadi kaya karena mereka pandai mengambil peluang, mengambil keputusan, dan bangkit dari kegagalan. Semua tindakan itu hanya bisa dilakukan jika mentalnya berada dalam kondisi "Bahagia/Bisa".
Menarik, kan? kita sudah membahas kekuatan Komunikasi Internal untuk mengubah isi kepala kita. Kalau baru menata isi pikiran saja efeknya sudah sekeren ini, kebayang gak gimana jadinya kalau kita gabungkan dengan materi berikutnya, yaitu Komunikasi Eksternal? Kita akan bicarakan bagaimana gestur, tatapan mata, dan intonasi suara bisa menjadi magnet yang membuat orang lain takjub dan tunduk pada pelayanan kita, penawaran kita. Masih mau lanjut ?? istirahat dulu ya...cape euyyyyy